Beranda / BERITA UTAMA / Skill Lebih Penting dari Gear: Mahasiswa Jurnalistik Asah Kemampuan Fotografi dan Videografi

Skill Lebih Penting dari Gear: Mahasiswa Jurnalistik Asah Kemampuan Fotografi dan Videografi

Diterbitkan:

Kategori:

Pengunjung: 290

Diterbitkan:

Kategori:

Oleh:

Pengunjung: 290

JAMBI – “Belajar itu Investasi, bukan Beban”. Nilai-nilai pendidikan yang menggambarkan semangat menggebu Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Islam (Prodi JI) Semester 5 saat mengikuti kegiatan forum belajar tambahan di luar kampus. Jumat, 12 Desember 2025 di Kota Jambi.

Didampingi dosen pengampu Achmad Riky Sufrian, mereka menimba ilmu praktis terkait teknik fotografi dan videografi. Praktik digital ini dimentori Bima Pratama—Video Journalism Specialist yang juga merupakan kontributor MD TV (sebelumnya bernama Net TV).

Pada sesi pertama, Bima menjelaskan dasar-dasar pengambilan video. Ia menekankan pentingnya memilih format video sesuai kebutuhan platform, seperti format potrait untuk konten Instagram.

Selain itu, ia juga mengajarkan teknik cut-to-cut yang dapat mempercepat proses editing sekaligus menjaga alur video agar tetap dinamis. Penggunaan alat pendukung seperti tripod dan clip-on microphone juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas gambar dan suara.

Bima juga menegaskan bahwa kualitas konten video tidak semata-mata ditentukan oleh mahalnya perangkat yang digunakan. Ia menyoroti bahwa banyak orang masih menunda pembuatan konten karena merasa belum memiliki alat canggih dan mahal.

“Skill lebih penting daripada gear,” kata Koordinator Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jambi itu.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kemampuan teknis dan pemahaman mendalam terhadap proses produksi video jauh lebih berpengaruh dari pada sekadar memiliki peralatan mahal. Smartphone saat ini sudah cukup untuk menghasilkan video berkualitas jika pengguna mampu menguasai teknik yang tepat.

Bima juga membahas teknik pengambilan gambar dengan memberikan contoh praktik yang efektif. Ia memperlihatkan cara merekam dari sudut miring untuk menciptakan ruang kosong (negative space) yang estetis, sehingga latar belakang video tidak hanya menjadi sekadar elemen pengisi, tetapi juga memperkaya visual.

Dalam aspek pengolahan video, ia juga menyinggung pentingnya pemilihan musik (backsound) yang sesuai dengan suasana dan pesan video. Musik yang dipilih dengan tepat akan memperkuat makna dan emosi dalam video, sementara musik yang salah justru dapat mengganggu penyampaian pesan kepada penonton.

Dengan adanya forum belajar ini, diharapkan kompetensi digital mahasiswa semakin meningkat, khususnya dalam kemampuan memproduksi video dan foto berkualitas, terutama dalam dunia jurnalistik.

Penulis: Dina Rusiana—Mahasiswa Jurnalistik Islam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *