Beranda / BERITA UTAMA / Dari Data ke Cerita Inklusi: Kunjungan Studi Mahasiswa Jurnalistik Islam ke KKI Warsi

Dari Data ke Cerita Inklusi: Kunjungan Studi Mahasiswa Jurnalistik Islam ke KKI Warsi

Diterbitkan:

Pengunjung: 278

Diterbitkan:

Oleh:

Pengunjung: 278

JAMBI – Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Islam UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, didampingi dosen pengampu Achmad Riky Sufrian melakukan kunjungan studi ke kantor Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Jumat (21/11/2025).

KKI Warsi, merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pendampingan serta advokasi masyarakat di sekitar hutan di Indonesia. Kunjungan ini bagian dari implementasi pembelajaran berbasis proyek untuk dua mata kuliah, yakni Jurnalisme Data dan Jurnalisme Inklusi yang merupakan bagian dari jurnalisme penting untuk dipelajari mahasiswa Jurnalistik Islam di era saat ini.

Kunjungan studi ini diikuti mahasiswa semester III dan V yang secara khusus fokus mendalami praktik pelaporan isu-isu lingkungan, serta sosial berbasis Jurnalisme Data dan Jurnalisme Inklusi. Para mahasiswa diterima langsung oleh Koordinator Divisi Komunikasi KKI Warsi, Sukmareni.

Perempuan yang akrab disapa Uni Reni ini sekaligus menjadi pemateri dalam kunjungan studi. Membawakan materi utama bertajuk “Dari Data ke Cerita: Jurnalisme Data dan Narasi Inklusi untuk Advokasi”. Ia memaparkan materi tersebut dengan menunjukkan studi kasus kepada para mahasiswa. Data-data yang diolah menjadi suatu tulisan dengan narasi inklusi menjadi cara Warsi untuk berkampanye.

“Kita dalam mengkampanyekan sesuatu, tidak bisa tiba-tiba koar-koar. Kita tunjukkan data. Dalam menyampaikan narasi pun, kita harus menggunakan narasi yang inklusi,” katanya kepada para mahasiswa.

Menurutnya narasi inklusi memegang peran penting dalam kerja advokasi. Sebagai lembaga yang fokus kepada pengembangan masyarakat adat yang rentan, Warsi dalam tulisannya komitmen membangun narasi inklusi untuk mengadvokasi masyarakat. Dari data menjadi sebuah cerita membuat suara yang awalnya sunyi, kini kian berbunyi.

Salah satu mahasiswa yang mengikuti kunjungan studi tersebut mengaku kegiatan belajar langsung ke lapangan seperti itu menjadi program yang sangat relevan dengan kegiatan jurnalistik.

“Kunjungan studi seperti ini sangat bagus dijadikan program untuk mahasiswa Jurnalistik Islam sebagai implementasi dari pembelajaran Jurnalisme Data dan Inklusi,” ujar Indah Cahyani, mahasiswa Jurnalistik Islam Semester V.

Faradina, mahasiswa lainnya mengatakan kunjungan kami ke Warsi menjadi pengalaman yang sangat berharga. Ia tidak hanya mendapatkan wawasan baru mengenai pelestarian lingkungan dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat, tetapi juga mengetahui langsung bagaimana Warsi mendampingi komunitas adat dalam menjaga kearifan lokal mereka.

“Pendekatan yang mereka lakukan sangat humanis, partisipatif, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. dari materi yang dipaparkan juga kami banyak mengetahui hal baru, seperti peta yang diajukan Warsi ke pemerintahan untuk menandakan titik Orang Rimba itu di mana saja. Warsi juga mengolah data dengan sangat akurat dari berbagai macam sumber untuk advokasi,” kata Fara.

Sebagai mahasiswa UIN, pengalaman ini, kata Fara, membuka perspektif baru bahwa isu lingkungan bukan hanya persoalan ekologi, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek sosial, budaya, bahkan spiritual.

“Kami pulang dengan pemahaman yang lebih dalam serta motivasi untuk turut berkontribusi dalam upaya pelestarian alam. Terima kasih Warsi atas ilmu dan inspirasinya,” kata Fara

Rizky Aditya Pratama, Mahasiswa dari Prodi jurnalistik Islam semester III, dari kunjungan ke Warsi, ia dan mahasiswa lainnya banyak mendapatkan perspektif baru, terutama bisa lebih dalam mengulik tentang narasi inklusi. Di mana Jurnalisme Inklusif merupakan suatu bidang dalam jurnalistik yang praktik jurnalistiknya itu berupaya menyuarakan kelompok-kelompok yang sering terpinggirkan dalam pemberitaan, seperti penyandang disabilitas, masyarakat adat dan kelompok rentan lainnya.

“Jadi dalam kunjungan tersebut saya mendapatkan pengetahuan baru bagaimana cara Warsi menyuarakan, membantu dan melindungi orang-orang atau masyarakat adat seperti Orang Rimba dan sekaligus bagimana cara Warsi itu membantu mendampingi warga dalam mengelola sumber daya alam yang baik,” kata Rizky.

Achmad Riky Sufrian, Dosen Pengampu, mengatakan kunjungan ke Warsi merupakan bagian pengayaan materi di kampus, kunjungan studi bisa memberikan perspektif yang berbeda, dan bisa menjadi bekal bagi mahasiswa untuk lebih mahasiswa perkembangan dunia jurnalistik.

“Kerja-kerja yang dilakukan Warsi irisannya sangat kuat dengan kerja-kerja jurnalistik. Berita berbasis data dan penggunaan narasi yang inklusi bisa mendapatkan atensi yang lebih banyak dari publik, sehingga bisa mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat luas,” kata Riky.

Kunjungan ini diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memadukan antara keahlian mengolah data dan membangun narasi inklusi ke dalam praktik jurnalistik mereka di masa depan. Data bisa menjadi bukti, cerita bisa menjadi jembatan, dan jurnalisme bisa menjadi alat perubahan.

Penulis: Indah Cahyani, JI 5

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *